detektor non inverting dengan Vref =+



1. Pendahuluan [Kembali]

    Dalam dunia elektronika, detektor non-inverting dengan Vref + adalah salah satu konfigurasi dasar dari op-amp yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan sinyal input dan menghasilkan output yang sebanding dengan amplitudo sinyal input, tanpa membalikkan polaritasnya. Dalam detektor non-inverting dengan Vref +, tegangan referensi positif (+) atau Vref + digunakan untuk membandingkan sinyal input. Vref+ merupakan tegangan referensi positif yang digunakan untuk menentukan level tegangan di mana detektor akan aktif. Ketika tegangan input melebihi Vref+, output dari detektor akan menjadi high. Ketika tegangan input di bawah Vref+, output dari detektor akan menjadi low. 

2. Tujuan [Kembali]

  • Mampu mengetahui rangkaian op-amp sebagai detektor non-inverting dengan Vref (+)
  • Mampu mengetahui rangkaian op-amp sebagai detektor non-inverting Vref (+)
  • Mampu membuat rangkaian simulasi dengan menerapkan konsep detektor non-inverting Vref (+)
  • Mampu memahami prinsip kerja dari rangkaian detektor non-inverting Vref (+), yang dapat diterapkan dalam berbagai jenis rangkaian elektronik seperti sensor

3. Alat dan Bahan [Kembali]

1) Instrument

        a. Voltmeter




 

Voltmeter adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur besara tegangan atau beda potensial listrik antara dua titik pada suatu rangkaian listrik yang dialiri arus listrik. Pada alat ukur voltmeter ini biasanya ditemukan tulisan voltmeter (V), milivoltmeter (mV), mikrovoltmeter, dan kilovolt (kV). Sekarang ini, voltmeter ditemukan dalam dua jenis yaitu voltmeter analog (jarum penunjuk) dan voltmeter digital. Voltmeter memiliki batas ukur tertentu, yakni nilai tegangan maksimum yang dapat diukur oleh voltmeter tersebut.

 

Spesifikasi :

  1. Angka rangkuman masukan biasanya di mulai dari ± 1,000000 V hingga s/d ± 1000, 000 V (Metode pemilihan rangkuman dilakukan dengan cara otomatis dan indikasi beban lebih).
  2. Ketelitian mutlak tercatat mencapai ± 0,005 persen dari pembacaan yang sudah dilakukan.
  3. Angka stabilitas untuk jangka pendek sebesar 0,002 persen dari pembacaan (periode 24 jam). Sedangkan untuk jangka panjang sebesar 0,008 persen pembacaan (periode 6 bulan).
  4. Resolusi untuk 1 bagian dalam 106 yaitu 1 μV bisa dibaca pada rangkuman dari masukan 1 V.
  5. Karakteristik masukannya yaitu tahanan masukan khas sebesar 10 MΩ dengan kapasitas masukan 40 pF.
  6. Kalibrasi yang standar (internal) tidak tergantung pada rangkaian ukuran yang mana telah diperoleh dari sumber referensi yang sudah stabil.
  7. Ada beberapa sinyal keluaran seperti perintah mencetak.

 

         b. Generator daya

        - Power Supply

Berfungsi sebagai sumber daya bagi sensor ataupun rangkaian. Spesifikasi :

Input voltage: 5V-12V
Output voltage: 5V
Output Current: MAX 3A
Output power:15W
conversion efficiency: 96%

          - Baterai

Baterai (Battery) adalah sebuah alat yang dapat mengubah energi kimia yang disimpannya menjadi energi Listrik yang dapat digunakan oleh suatu perangkat Elektronik. 

Spesifikasi dan Pinout Baterai

  1. Input voltage: ac 100~240v / dc 10~30v
  2. Output voltage: dc 1~35v
  3. Max. Input current: dc 14a
  4. Charging current: 0.1~10a
  5. Discharging current: 0.1~1.0a
  6. Balance current: 1.5a/cell max
  7. Max. Discharging power: 15w
  8. Max. Charging power: ac 100w / dc 250w
  9. Jenis batre yg didukung: life, lilon, lipo 1~6s, lihv 1-6s, pb 1-12s, nimh, cd 1-16s
  10. Ukuran: 126x115x49mm
  11. Berat: 460gr

     2) Probes

         a. Voltage 

Probe voltage adalah alat atau komponen dalam sistem pengukuran listrik/elektronika yang digunakan untuk mendeteksi atau mengukur tegangan pada titik tertentu dalam rangkaian.



Spesifikasi :

  1. Tegangan Maksimum: 300V – 1000V (tergantung kategori keselamatan: CAT II/III).
  2. Bandwidth: 10 MHz – >500 MHz (untuk osiloskop).
  3. Attenuation Ratio: 1:1 atau 10:1 (peredam sinyal).
  4. Input Resistance: Umumnya 10 MΩ.
  5. Input Capacitance: Sekitar 10–20 pF.
  6. Konektor: BNC (osiloskop), banana plug/needle (multimeter).

B. Bahan

     1) Resistor

Resistor atau disebut juga dengan Hambatan adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menghambat dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian elektronika. Satuan nilai Resistor atau Hambatan adalah Ohm.

Spesifikasi dari Resistor adalah resistansinya dan daya listrik yang dapat dihantarkan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, derau listrik (noise), dan induktansi. Resistor dapat diintegrasikan ke dalam sirkuit hibrida dan papan sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu.

 

 

Spesifikasi

 

Resistor adalah komponen elektronika pasif yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena dia berfungsi sebagai penghambat arus listrik. Bila kita menginginkan arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai resistansinya kecil, mendekati nol atau sama dengan nol atau tidak dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi dibatasi. Resistor berfungsi sebagai  Penghambat arus listrik, Sebagai tahanan arus listrik agar listrik yang melewati resistor di hambat melalui karbon yang berada di dalam tubuh resistor menjadi di perkecil apabila resistansinya besar, Sebagai tahanan arus listrik agar listrik yang melewati resistor di hambat melalui karbon yang berada di dalam tubuh resistor menjadi di perkecil apabila resistansinya besar.

      2) Dioda 

Dioda adalah dioda penyearah umum yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi elektronika, terutama untuk mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC).

 

Spesifikasi :

  1. Tegangan Maksimum (Vrrm): 100 Volt
  2. Arus Maksimum (If): 1 Ampere
  3. Jenis: Dioda Penyearah (Rectifier Diode)
  4. Material: Silikon
  5. Aplikasi: Catu daya, konverter tegangan, dan rangkaian penyearah lainnya 

 

      3) Transistor BC547 dan MPS6534

Spesifikasi untuk BC547

  1. Type - NPN
  2. Collector-Emitter Voltage: 35 V
  3. Collector-Base Voltage: 35 V
  4. Emitter-Base Voltage: 5 V
  5. Collector Current: 2.5 A
  6. Collector Dissipation - 10 W
  7. DC Current Gain (hfe) - 100 to 200
  8. Transition Frequency - 160 MHz
  9. Operating and Storage Junction Temperature Range -55 to +150 °C
  10. Package - TO-126

Pin :

  1. Collector (C) → Tempat arus masuk (NPN) atau keluar (PNP) dari beban.
  2. Base (B) → Terminal kontrol, digunakan untuk mengatur hidup/matinya arus.
  3. Emitter (E) → Tempat arus keluar (NPN) atau masuk (PNP), menuju ground atau suplai.

Konfigurasi Transistor:

Konfigurasi Common Base adalah konfigurasi yang kaki Basis-nya di-ground-kan dan digunakan bersama untuk INPUT maupun OUTPUT.  Pada Konfigurasi Common Base, sinyal INPUT dimasukan ke Emitor  dan sinyal OUTPUT-nya diambil dari Kolektor, sedangkan kaki Basis-nya di-ground-kan. Oleh karena itu, Common Base juga sering disebut dengan istilah “Grounded Base”. Konfigurasi Common Base ini menghasilkan Penguatan Tegangan antara sinyal INPUT dan sinyal OUTPUT namun tidak menghasilkan penguatan pada arus.

Konfigurasi Common Collector (CC) atau Kolektor Bersama memiliki sifat dan fungsi yang berlawan dengan Common Base (Basis Bersama). Kalau pada Common Base menghasilkan penguatan Tegangan tanpa memperkuat Arus, maka Common Collector ini memiliki fungsi yang dapat menghasilkan Penguatan  Arus namun tidak menghasilkan penguatan Tegangan. Pada Konfigurasi Common Collector, Input diumpankan ke Basis Transistor sedangkan Outputnya diperoleh dari Emitor Transistor sedangkan Kolektor-nya di-ground-kan dan digunakan bersama untuk INPUT maupun OUTPUT. Konfigurasi Kolektor bersama (Common Collector) ini sering disebut juga dengan Pengikut Emitor (Emitter Follower) karena tegangan sinyal Output pada Emitor hampir sama dengan tegangan Input Basis.

Konfigurasi Common Emitter (CE) atau Emitor Bersama merupakan Konfigurasi Transistor yang paling sering digunakan, terutama pada penguat yang membutuhkan penguatan Tegangan dan Arus secara bersamaan. Hal ini dikarenakan Konfigurasi Transistor dengan Common Emitter ini menghasilkan penguatan Tegangan dan Arus antara sinyal Input dan sinyal Output. Common Emitter adalah konfigurasi Transistor dimana kaki Emitor Transistor di-ground-kan dan dipergunakan bersama untuk INPUT dan OUTPUT. Pada Konfigurasi Common Emitter ini, sinyal INPUT dimasukan ke Basis dan sinyal OUTPUT-nya diperoleh dari kaki Kolektor.

spesifikasi untuk MPS6534 adalah sebagai berikut:

Spesifikasi Umum

  • Tipe transistor: PNP Bipolar Junction Transistor (BJT)
  • Fungsi: General Purpose Amplifier dan Switching
  • Kemasan (Package): TO-92
  • Material: Silicon (Si)

Batas Maksimum (Absolute Maximum Ratings)

  • Tegangan Collector-Emitter (VCEO): 40 V
  • Tegangan Collector-Base (VCBO): 40 V
  • Tegangan Emitter-Base (VEBO): 4 V
  • Arus Kolektor Maksimum (IC): 600 mA (beberapa datasheet mencantumkan hingga 800 mA)
  • Daya Disipasi Maksimum (PD): 625 mW
  • Suhu Junction Maksimum (TJ): 150 °C
  • Rentang Suhu Operasi: −55 °C hingga +150 °C

Karakteristik Listrik

  • DC Current Gain (hFE)
    • Minimum: 60 pada IC = 10 mA
    • Tipikal: 90–270 pada IC = 100 mA
  • Frekuensi Transisi (fT): 250 MHz (tipikal)
  • Tegangan Saturasi Collector-Emitter (VCE(sat)): 0,3 V maksimum
  • Tegangan Saturasi Base-Emitter (VBE(sat)): 1,0 V maksimum
  • Arus Bocor Collector-Base (ICBO): 50 nA maksimum
  • Kapasitansi Output (Cob): 6 pF

Pin :

  1. Collector (C) → Tempat arus keluar (PNP) dari beban.
  2. Base (B) → Terminal kontrol, digunakan untuk mengatur hidup/matinya arus.
  3. Emitter (E) → Tempat arus masuk (PNP), menuju ground atau suplai.

4) Op Amp - LM741 

Op-Amp adalah salah satu dari bentuk IC Linear yang berfungsi sebagai Penguat Sinyal listrik. Sebuah Op-Amp terdiri dari beberapa Transistor, Dioda, Resistor dan Kapasitor yang terinterkoneksi dan terintegrasi sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan Gain (penguatan) yang tinggi pada rentang frekuensi yang luas. Dalam bahasa Indonesia, Op-Amp atau Operational Amplifier sering disebut juga dengan Penguat Operasional.

 

Untuk LM741:

Konfigurasi PIN LM741

 

Spesifikasi:

e

 

      5) Komponen Input

          a. Switch

Switch atau saklar adalah komponen elektronik atau elektromechanical yang berfungsi untuk menghubungkan atau memutuskan aliran arus listrik dalam suatu rangkaian. Konsep dasarnya adalah membuka dan menutup jalur konduksi, seperti pintu yang mengizinkan atau menghalangi aliran elektron. Ketika switch dalam kondisi tertutup (ON), arus listrik dapat mengalir bebas melalui rangkaian; sebaliknya, ketika switch dalam kondisi terbuka (OFF), jalur arus terputus dan tidak ada aliran listrik. 

Switch digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari perangkat sederhana seperti lampu rumah hingga sistem kompleks seperti komputer, otomasi industri, dan kontrol elektronik. Ada berbagai jenis switch, seperti toggle switch, push button, rotary switch, DIP switch, dan reed switch, masing-masing dengan karakteristik dan cara kerja yang berbeda. 

    b . Logicstate

Gerbang Logika (Logic Gates) adalah sebuah entitas untuk melakukan pengolahan input-input yang berupa bilangan biner (hanya terdapat 2 kode bilangan biner yaitu, angka 1 dan 0) dengan menggunakan Teori Matematika Boolean sehingga dihasilkan sebuah sinyal output yang dapat digunakan untuk proses berikutnya.

Pinout

 

    C.  LM35

Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan. Sensor Suhu LM35 yang dipakai dalam penelitian ini berupa komponen elektronika elektronika yang diproduksi oleh National Semiconductor. LM35 memiliki keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan dengan sensor suhu yang lain, LM35 juga mempunyai keluaran impedansi yang rendah dan linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan dengan rangkaian kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan lanjutan.

Simbol LM35 di proteus :




Grafik respon

   

     

 

    D. Sensor Kelembapan HIH-5030




Sensor yang dapat mengukur dua parameter lingkungan sekaligus, yakni suhu dan kelembaban udara (humidity). Dalam sensor ini terdapat sebuah thermistor tipe NTC (Negative Temperature Coefficient) untuk mengukur suhu, sebuah sensor kelembaban tipe resisitif dan sebuah mikrokontroller 8-bit yang mengolah kedua sensor tersebut dan mengirim hasilnya ke pin output dengan format single-wire bi-directional (kabel tunggal dua arah).

Spesifikasi :

  • Output analog
  • Sensor kelembaban relatif
  • Akurasi kelembaban: ± 3% rh.
  • Pasokan 2,7 vdc sampai 5,5 vdc.
  • Smd.tertutup, dengan / tanpa filter hidrofobik

Pinout

 

Grafik Respons Sensor

2) Sensor Cahaya (APDS-9002)

    Sensor cahaya adalah komponen elektronik yang digunakan untuk mendeteksi intensitas cahaya di lingkungan sekitarnya dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Sensor ini umum digunakan pada sistem otomatisasi seperti lampu otomatis, pengatur kecerahan layar, robot, dan perangkat pintar lainnya. APDS-9002 adalah sensor cahaya ambient (ambient light sensor) berbasis fotodioda dan amplifier yang dirancang untuk meniru respons spektral mata manusia terhadap cahaya. Sensor ini mendeteksi intensitas cahaya di lingkungan dan mengubahnya menjadi sinyal analog yang berbanding lurus dengan tingkat pencahayaan (lux).

Prinsip kerja:

    Saat cahaya mengenai area aktif sensor (fotodioda internal), elektron dalam material semikonduktor sensor dilepaskan, menghasilkan arus kecil. Arus ini kemudian diperkuat oleh amplifier internal dan diubah menjadi tegangan analog. Tegangan output tersebut akan meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas cahaya.

    Dengan membaca tegangan analog ini menggunakan mikrokontroler (seperti Arduino), kita bisa mengetahui apakah kondisi sekitar terang atau gelap, dan bisa digunakan dalam sistem seperti kontrol lampu otomatis, pengatur kecerahan layar, atau sistem siang-malam.

 

      6) Komponen Output

          a. LED   

 

Komponen elektronika yang dapat memancarkan  cahaya monokromatik ketika diberikan tegangan maju. LED merupakan keluarga Dioda yang terbuat dari bahan semikonduktor. Warna-warna Cahaya yang dipancarkan oleh LED tergantung pada jenis bahan semikonduktor yang dipergunakannya. LED juga dapat memancarkan sinar inframerah yang tidak tampak oleh mata seperti yang sering kita jumpai pada Remote Control TV ataupun Remote Control perangkat elektronik lainnya.

Konfigurasi pin :

 

-Pin 1 : Positive Terminal Of Led

-Pin 2 : Negative Terminal Of Led

Spesifikasi 

  1. Superior Weather Resistance
  2. 5mm Round Standard Directivity
  3. Uv Resistant Eproxy
  4. Forward Current (If): 30ma
  5. Forward Voltage (Vf): 1.8v To 2.4v
  6. Reverse Voltage: 5v
  7. Operating Temperature: -30 To +85
  8. Storage Temperature: -40 To +100
  9. Luminous Intensity: 20mcd

Tegangan LED menurut warna:

  1. Infra merah : 1,6 V.
  2. Merah : 1,8 V – 2,1 V.
  3. Oranye : 2,2 V.
  4. Kuning : 2,4 V.
  5. Hijau : 2,6 V.
  6. Biru : 3,0 V – 3,5 V.
  7. Putih : 3,0 – 3,6 V.
  8. Ultraviolet : 3,5 V.

          b. Relay

 

Relay adalah komponen elektronika berupa sakelar elektronik yang digerakkan oleh arus listrik. Secara prinsip, relay merupakan tuas sakelar dengan lilitan kawat pada batang besi (solenoid) di dekatnya. Ketika solenoid dialiri arus listrik, tuas akan tertarik karena adanya gaya magnet yang terjadi pada solenoid sehingga kontak sakelar akan menutup. Pada saat arus hentikan, gaya magnet akan hilang, tuas akan kembali ke posisi semula dan kontak sakelar kembali terbuka. Relay biasanya digunakan untuk menggerakkan arus / tegangan yang besar (misalnya peralatan listrik 4 A / AC 220 V) dengan memakai arus / tegangan yang kecil (misalnya 0.1 A / 12 Volt DC). 

Konfigurasi Pin :

 

 

e

Gambar bentuk dan Simbol relay

Spesifikasi :

 

 

          c. Motor DC

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa motor terdiri atas 2 bagian utama yaitu stator dan motor. Pada stator terdapat lilitan (winding) atau magnet permanen, sedangkan rotor adalah bagian yang dialiri dengan sumber arus DC. Arus yang melalui medan magnet inilah yang menyebabkan rotor dapat berputar. Arah gaya elektromagnet yang ditimbulkan akibat medan magnet yang dilalui oleh arus dapat ditentukan dengan menggunakan kaidah tangan kanan.

 

Konfigurasi pin




Spesifikasi

 

 

 

4. Dasar Teori[Kembali]

A. Resistor

 

 

 

Resistor merupakan salah satu komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk membatasi arus yang mengalir pada suatu rangkaian dan berfungsi sebagai terminal antara dua komponen elektronika. Tegangan pada suatu resistor sebanding dengan arus yang melewatinya (V=I R).

Cara menghitung nilai resistansi resistor dengan gelang warna:

1. Masukkan angka langsung dari kode warna gelang pertama

2. Masukkan angka langsung dari kode warna gelang kedua

3. Masukkan angka langsung dari kode warna gelang ketiga

4. Masukkan jumlah nol dari kode warna gelang ke-4 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10(10^n)

Resistor di pasaran

 

 

B. Dioda 1N4002

 

 

Dioda adalah komponen elektronika yang terdiri dari dua kutub dan berfungsi menyearahkan arus. Komponen ini terdiri dari penggabungan dua semikonduktor yang masing-masing diberi doping (penambahan material) yang berbeda, dan tambahan material konduktor untuk mengalirkan listrik.

Dalam ilmu fisika dioda digunakan untuk penyeimbang arah rangkaian elektronika. Elektronika memiliki dua terminal yaitu anoda berarti positif dan katoda berarti negatif. Prinsip kerja dari anode berdasarkan teknologi pertemuan positif dan negative semikonduktor. Sehingga anode dapat menghantarkan arus litrik dari anoda menuju katoda, tetapi tika sebaliknya katoda ke anoda.

Dioda digambarkan seperti sebuah switch/saklar dimana saklar tersebut hanya akan bekerja di beri tegangan atau arah arus sesuai dengan polaritas kaki ioda itu sendiri. Pada arah bias maju, bias kaki anoda diberikan tegangan (+) dan tegangan (-) pada katoda maka dioda akan dapat mengalirkan arus pada satu arah. Sedangkan pada arah arus mundur bias dimana kaki anoda diberi tegangan (-) dan tegangan (+) pada katoda maka saklar menjadi terbuka atau saklar OFF.

 

Dioda dapat dibagi menjadi beberapa jenis:

  1. Dioda Penyearah (Dioda Biasa atau Dioda Bridge) yang berfungsi sebagai penyearah arus AC ke arus DC.
  2. Dioda Zener yang berfungsi sebagai pengaman rangkaian dan juga sebagai penstabil tegangan.
  3. Dioda LED yang berfungsi sebagai lampu Indikator ataupun lampu penerangan.
  4. Dioda Photo yang berfungsi sebagai sensor cahaya.
  5. Dioda Schottky yang berfungsi sebagai Pengendali.

Untuk menentukan arus zenner  berlaku persamaan :


Keterangan :

 

 

Grafik :




Pada grafik terlihat bahwa pada tegangan dibawah ambang batas tegangan mundur (reverse) sebuah dioda akan tembus (menghantar) dan tidak bisa menahan lagi. Batas ini disebut dengan area tegangan breakdown dioda. Kondisi dioda pada area ini adalah tembus atau menghantar dan tidak menghambat. Kemudian pada level tegangan diantara tegangan breakdown dan tegangan forward terdapat area tegangan reverse dan tegangan cut off. Pada area ini kondisi dioda adalah menahan atau tidak mengalirkan arus listrik.

 

C. Transistor 

 

Transistor adalah sebuah komponen di dalam elektronika yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki. Masing-masing kaki disebut sebagai basis, kolektor, dan emitor.

  1. Emitor (E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
  2. Kolektor (C) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam transistor.
  3. Basis (B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari transistor melalui kolektor.

Transistor Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu Transistor NPN dan Transistor PNP. 

  1. Transistor NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
  2. Transistor PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.

Rumus :



Konfigurasi transistor bipolar :

Cara mengukur transistor bipolar

Karakteristik input

Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah transistor memiliki tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan daerah disebut kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan emitter dioda dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.

Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat.

Karakteristik output

Sebuah transistor memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital, transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu besar. 

Gelombang I/O Transistor

D. OP-AMP



Penguat operasional atau yang dikenal sebagai Op-Amp merupakan suatu rangkaian terintegrasi atau IC yang memiliki fungsi sebagai penguat sinyal, dengan beberapa konfigurasi. Secara ideal Op-Amp memiliki impedansi masukan dan penguatan yang tak berhingga serta impedansi keluaran sama dengan nol. Dalam prakteknya, Op-Amp memiliki impedansi masukan dan penguatan yang besar serta impedansi keluaran yang kecil. 

Op-Amp memiliki beberapa karakteristik, di antaranya:

a. Penguat tegangan tak berhingga (AV = )

b. Impedansi input tak berhingga (rin = )

c. Impedansi output nol (ro = 0) d. Bandwidth tak berhingga (BW = )

d. Tegangan offset nol pada tegangan input (Eo = 0 untuk Ein = 0)

Rangkaian dasar Op-Amp

1. Op Amp Sebagai amplifier Non Inverting

Penguat Non Inverting adalah suatu rangkaian penguat yang berfungsi menguatkaan sinyal dan hasil sinyal yang dikuatkan tetap sefasa dengan sinyal inputannya, hasil dari sinyal input dan output rangkaian non inverting dapat dilihat pada Gambar 1. Pada dasarnya penguat non inverting digunakan sebagai pengkondisi sinyal inputan sensor yang terlalu kecil sehingga dibutuhkan penguatan untuk diproses. intinya penguat non inverting ke balikkan dari penguat inverting.




Gambar 1 Rangkaian amplifier Non Inverting

Keterangan Gambar

    Vin : Tegangan Masukan

    Vout : Tegangan Keluaran

    Rg : Resistansi ground 

    Rf : Resistansi feedback



Gambar 2 Sinyal Input dan Output amplifier Non Inverting

Fungsi amplifier Non Inverting

Fungsi dari penguat non inverting kurang lebih sama dengan penguat inverting hanya saja polaritas output yang dihasilkan sama dengan sinyal inputnya. Keluaran sensor dan tranduser pada umumnya mempunyai tegangan yang sangat kecil hingga mikro volt, sehingga diperlukan penguat dengan impedansi masukan rendah.  Rangkaian penguat non inverting akan menerima arus atau tegangan dari tranduser sangat kecil dan akan membangkitkan arus atau tegangan yang lebih besar

Rumus Op Amp Non Inverting




Gambar 3 Penjabaran Rangkaian Penguat Non Inverting untuk mempermudah penurunan rumus

Rumus mencari tegangan output yaitu:



Rumus mencari besar penguatannya yaitu sebagai berikut:



Op-amp sebagai voltage follower

Op-Amp Voltage Follower (atau dikenal juga sebagai Unity-gain Amplifier atau Buffer Amplifier) adalah rangkaian Op-Amp yang memiliki penguatan atau gain (A) tegangan sebesar 1x. Dengan kata lain, Op-Amp tidak memberikan amplifikasi ataupun atenuasi terhadap sinyal inputnya. Yang artinya keluaran dari Op-Amp sama dengan masukannya.




Rangkaian Op-Amp Voltage Follower.

 




Cara Kerja Rangkaian Op-Amp Voltage Follower.

Respons karakteristik kurva I-O:

Gelombang I/O Inverting Amplifier

 E. Sensor

 

 2. LM35

Sensor suhu LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi untuk mengubah besaran suhu menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan. Sensor Suhu LM35 yang dipakai dalam penelitian ini berupa komponen elektronika elektronika yang diproduksi oleh National Semiconductor. LM35 memiliki keakuratan tinggi dan kemudahan perancangan jika dibandingkan dengan sensor suhu yang lain, LM35 juga mempunyai keluaran impedansi yang rendah dan linieritas yang tinggi sehingga dapat dengan mudah dihubungkan dengan rangkaian kendali khusus serta tidak memerlukan penyetelan lanjutan.

Simbol LM35 di proteus :




Grafik respon



 

 

6.Sensor Kelembapan HIH-5030




Seri HIH-5030/5031 mencakup sensor kelembaban sirkuit terintegrasi, SMD, 1000 unit pada tape dan reel.Sensor Kelembaban Tegangan Rendah Seri HIH-5030/5031 beroperasi hingga 2,7 V, seringkali ideal dalam sistem bertenaga baterai di mana suplai adalah nominal 3 V. Sensor Kelembaban Seri HIH-5030/5031 dirancang khusus untuk pengguna OEM (Original Equipment Manufacturer) volume tinggi. Input langsung ke pengontrol atau perangkat lain dimungkinkan oleh output tegangan linier dekat sensor ini. Dengan tarikan arus tipikal hanya 200 µA, Seri HIH-5030/5031 sering kali cocok untuk sistem yang dioperasikan dengan baterai dengan pengurasan rendah. Kemampuan saling tukar sensor yang ketat mengurangi atau meniadakan biaya kalibrasi produksi OEM. Seri HIH-5030/5031 memberikan kinerja penginderaan RH (Relative Humidity) berkualitas instrumentasi dalam SMD dengan harga kompetitif dan dapat disolder. HIH-5030 adalah sensor kelembaban sirkuit terintegrasi tertutup. HIH-5031 adalah sensor kelembaban sirkuit yang tertutup, tahan kondensasi, dan terintegrasi yang dipasang di pabrik dengan filter hidrofobik yang memungkinkannya digunakan di lingkungan kondensasi termasuk aplikasi industri, medis dan komersial. Sensor RH menggunakan elemen penginderaan kapasitif polimer termoset yang dipangkas laser dengan pengkondisian sinyal terintegrasi pada chip. Konstruksi multilayer elemen penginderaan memberikan ketahanan yang sangat baik terhadap sebagian besar bahaya aplikasi seperti kondensasi, debu, kotoran, minyak, dan bahan kimia lingkungan umum.

Fitur/Kelebihan Sensor HIH-5030

  • Beroperasi hingga 2,7 V, ideal dalam sistem tenaga baterai dengan tegangan 3 V
  • Didesain dengan daya rendah
  • Akurasi ditingkatkan
  • Waktu respon yang cepat
  • Stabil, dengan penyimpangan yang rendah
  • Tahan dengan zat kimia

Pin dari sensor HIH-5030 adalah 




Simbol sensor HIH 5030

 Grafik Respon

2) Sensor Cahaya (APDS-9002)

    Sensor cahaya adalah komponen elektronik yang digunakan untuk mendeteksi intensitas cahaya di lingkungan sekitarnya dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Sensor ini umum digunakan pada sistem otomatisasi seperti lampu otomatis, pengatur kecerahan layar, robot, dan perangkat pintar lainnya. APDS-9002 adalah sensor cahaya ambient (ambient light sensor) berbasis fotodioda dan amplifier yang dirancang untuk meniru respons spektral mata manusia terhadap cahaya. Sensor ini mendeteksi intensitas cahaya di lingkungan dan mengubahnya menjadi sinyal analog yang berbanding lurus dengan tingkat pencahayaan (lux).

Prinsip kerja:

    Saat cahaya mengenai area aktif sensor (fotodioda internal), elektron dalam material semikonduktor sensor dilepaskan, menghasilkan arus kecil. Arus ini kemudian diperkuat oleh amplifier internal dan diubah menjadi tegangan analog. Tegangan output tersebut akan meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas cahaya.

    Dengan membaca tegangan analog ini menggunakan mikrokontroler (seperti Arduino), kita bisa mengetahui apakah kondisi sekitar terang atau gelap, dan bisa digunakan dalam sistem seperti kontrol lampu otomatis, pengatur kecerahan layar, atau sistem siang-malam.

 

F. Logicstate

Logicstate adalah keadaan logika dalam rangkaian digital yang merepresentasikan nilai biner, yaitu 0 (false) atau 1 (true).

 



 G. Power Supply

Catu daya merupakan suatu Rangkaian yang paling penting bagi sistem elektronika. Power supply atau catu daya adalah suatu alat atau perangkat elektronik yang berfungsi untuk merubah arus AC menjadi arus DC untuk memberi daya suatu perangkat keras lainnya. Sumber AC yaitu sumber tegangan bolak-balik, sedangkan sumber tegangan DC merupakan sumber tegangan searah. Power supply/unit catu daya secara efektif harus mengisolasi rangkaian internal  dari  jaringan  utama,  dan  biasanya  harus  dilengkapi  dengan pembatas  arus  otomatis  atau  pemutus  bila  terjadi  beban  lebih  atau hubung  singkat.  Bila  pada  saat  terjadinya  kesalahan  catu  daya, tegangan  keluaran DC meningkat  di  atas  suatu  nilai  aman maksimum untuk rangkaian internal, maka daya secara otomatis harus diputuskan.

Simbol di proteus




H. Relay

Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan Relay yang menggunakan Elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan Armature Relay (yang berfungsi sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A.

Simbol di proteus



G). Ground

Suatu komponen listrik yang bisa meniadakan beda potensial sebagai pelepasan muatan listrik berlebih pada suatu instalasi listrik dengan cara mengalirkannya ke tanah.

Simbol di proteus

 

 

5. Percobaan[Kembali]

a. Prosedur

  • Untuk membuat rangkaian ini, pertama, siapkan semua alat dan bahan yang bersangkutan, di ambil dari library proteus
  • Letakkan semua alat dan bahan sesuai dengan posisi dimana alat dan bahan terletak.
  • Tepatkan posisi letak nya dengan gambar rangkaian
  • Selanjutnya, hubungkan semua alat dan bahan menjadi suatu rangkaian yang utuh 
  • Lalu mencoba menjalankan rangkaian , jika tidak terjadi error, maka motor akan bergerak yang berarti rangkaian bekerja

 b. Rangkaian Simulasi

GAMBAR RANGKAIAN:

 

a. Sensor Kelembapan (HIH-5030)

 

Prinsip Kerja:

Sensor HIH-5030 bekerja berdasarkan prinsip perubahan sifat listrik (kapasitif) akibat kelembapan udara, yang kemudian diubah menjadi tegangan analog yang hampir linear terhadap nilai kelembapan relatif (%RH). Di dalam sensor ini terdapat material sensitif yang akan menyerap uap air dari udara; ketika kelembapan meningkat, sifat dielektrik material berubah sehingga menghasilkan perubahan sinyal listrik yang kemudian dikonversi menjadi tegangan output. Tegangan ini berbanding lurus dengan kelembapan, misalnya pada supply 3,3 V, output bisa berkisar sekitar 0,8 V hingga lebih dari 2,5 V untuk rentang 0–100% RH , dan hubungan ini mengikuti persamaan linear tertentu terhadap %RH .

Dalam sistem kontrol kumbung jamur tiram, sensor HIH-5030 digunakan untuk memastikan kelembapan minimal sekitar 75% agar pertumbuhan jamur optimal. Tegangan output sensor dimasukkan ke op-amp (misalnya LM358) sebagai komparator, di mana input non-inverting (+) menerima sinyal dari sensor dan input inverting (−) diberi tegangan referensi (Vref) yang setara dengan 75% RH. Ketika kelembapan turun di bawah 75%, tegangan output sensor menjadi lebih kecil dari Vref sehingga output op-amp berubah (LOW atau HIGH tergantung konfigurasi), lalu mengaktifkan transistor untuk menyalakan humidifier atau pompa kabut. Sebaliknya, jika kelembapan sudah mencapai atau melebihi 75%, tegangan sensor lebih tinggi dari Vref sehingga sistem pemanas kabut dimatikan. Dengan cara ini, sensor HIH-5030 memungkinkan sistem menjaga kelembapan kumbung secara otomatis dan stabil melalui perubahan tegangan analog yang langsung merepresentasikan kondisi udara di dalam kumbung.

b. Sensor Suhu (LM35)

 

 

Prinsip Kerja:

Sensor LM35 bekerja berdasarkan prinsip perubahan tegangan yang linear terhadap suhu. Di dalam LM35 terdapat rangkaian semikonduktor yang akan menghasilkan tegangan output yang sebanding dengan suhu lingkungan, dengan skala 10 mV per 1°C. Artinya, jika suhu di dalam kumbung jamur tiram mencapai 30°C, maka sensor akan menghasilkan tegangan sekitar 0,30 V. Tegangan analog ini kemudian dikirim ke rangkaian pengkondisi sinyal, biasanya menggunakan op-amp seperti LM358 yang dikonfigurasikan sebagai komparator non-inverting dengan tegangan referensi tertentu (Vref) sesuai suhu ideal pertumbuhan jamur (sekitar 25–28°C). Ketika tegangan dari LM35 melebihi Vref (menandakan suhu terlalu tinggi), output op-amp akan berubah menjadi HIGH, sehingga mengaktifkan transistor sebagai saklar untuk menyalakan kipas atau sistem pendingin. Sebaliknya, jika suhu masih di bawah batas yang ditentukan, output tetap LOW dan sistem pendingin tidak aktif. Dengan prinsip ini, LM35 memungkinkan sistem kontrol kumbung jamur tiram menjaga suhu secara otomatis agar tetap stabil dan optimal untuk pertumbuhan jamur.

 

 

6. Download file[Kembali]

A. Download Rangkaian

Download rangkaian detektor non inverting dengan vref =+ (klik disini)

B. Download Datasheet

Download datasheet resistor (klik disini)

Download datasheet Potensiometer (klik disini)

Download datasheet transistor BC547 (klik disini)

Download datasheet transistor MPS6534 (klik disini)

Download datasheet op amp LM 741 (klik disini)

Download datasheet Relay (klik disini)

Download datasheet HIH-5030 (klik disini)

Download datasheet Temperature Sensor LM35 (klik disini)

Download datasheet Baterai (klik disini)

Download datasheet LED (klik disini)

 


Komentar